::Sorry Under Construction..We'll be back to you Soon ::
ADVerTisement Available (Contact : andik.kurniawan@ymail.com)
Latest News

Dua Hari Melelahkan

Senin, Februari 18, 2008 , Posted by Ikatan Alumni TIP 2003 at 13.46

Hari Rabu, tanggal 13 Februari 2008 silam aku pulang kampung. Sebenarnya, mulai dari pagi, ada beberapa aktivitas yang harus kuselesaikan. Hal ini terkait dengan deadline tugas. Tidak ada waktu untuk menunda. Semakin dibiarkan lama akan semakin menumpuk sehingga pekerjaan akan terasa kurang efektif, hasilnya juga tidak optimal. Kondisi ini terjadi manakala aku belajar dari kesalahanku selama ini. Dekat-dekat dengan waktu pengumpulan tugas, malamnya baru melembur. Setelah itu, besoknya jadi, namun hasilnya hanya lumayan saja. Ah, terkadang walaupun sampai sekarang aku sudah berusaha meminimalisir, tapi susah sekali. Kebiasaan deadline masih seringkali terjadi. Hehe, mengapa ya sulit membiasakan diri padahal demi kebaikan kita sendiri? Perlu usaha lebih untuk memaksa diri mematuhi janji dalam diri dan hati.


Sebelumnya, malam hari Rabu, aku bersama seorang kawan, Atika datang ke rumah sastrawan ternama, Ratna Indraswari Ibrahim. Beliau tinggal di rumahnya yang asri nan bergaya kolonial, di Jalan Diponegoro. Tempatnya persis di sebelah Masjid Sallahudin dan Sekolah Musik Gita Narwastu. Kedatanganku ini terkait tujuan wawancara untuk memenuhi tugas dari pihak Humas membuat buku 45 tahun Universitas Brawijaya. Jadi, selain beberapa pemaparan tentang profil kampus secara general, termasuk juga prestasinya serta seabreg bahasan lain, diselipkan pula komentar dari pihak-pihak yang telah banyak berkontribusi buat Unibraw. Nah, salah satunya Mbak Ratna, panggilan akrab anak-anak mahasiswa pada dirinya. Tujuannya, agar dapat komentar yang bukan hanya posifif, melainkan juga berupa saran konstruktif demi evaluasi ke depan.

Ketika ditemui, beliau masih mengobrol lama dengan seorang kawannya. Kami lalu menghabiskan waktu sejenak dengan melihat-lihat buku yang terpajang di Tobuki, Toko Buku Kita. Toko ini dikelola secara swadaya oleh Mbak Ratna beserta beberapa orang rekannya. Tema buku yang dijual cukup luas, namun berdasarkan pengamatan, sekitar 85% tentang sastra dan sosial budaya. Ada beberapa novel yang menarik perhatianku, salah satunya berjudul In Cold Blood, karya Truman Capote. Berkisah tentang penyelidikan investigatif kasus pembunuhan di Holcum, Kansas. Buah penanya ini menandai awal kebangkitan jurnalisme sastrawi, selain karya John Hersney “Hiroshima” yang ditasbihkan sebagai karya jurnalistik terbaik dari 100 tulisan pada era kini.

Kembali ke Mbak Ratna. Kami lalu berbincang seru seputar tentang Universitas Brawijaya. Bagaimana dulu ia sempat berkuliah di FIA pada 1964 lalu drop out karena tidak menemukan kesesuaian. Ia lebih memilih untuk berkonsentrasi menulis. Hingga pada kritiknya terhadap teknokrat yang jarang mau menulis, khususnya di media mainstream, semacam Kompas atau Jawa Pos. Ia sangat menyayangkan hal ini. Seharusnya, agar Unibraw mau dikenal masyarakat secara luas, harus disertai dengan tindakan nyata. Minimal dengan publikasi tulisan, memberi saran terhadap isu-isu nasional yang marak terjadi. Ia juga menengarai sikap apatis mahasiswa sekarang lebih disebabkan pada fokus pada kegiatan kuliah agar tepat waktu. Sayang, dari sisi kualitas menjadi tidak matang. Berbeda dengan kondisinya dulu yang berkuliah dalam periode lama sehingga pengalaman lebih terasah. Juga nuansa kebersamaan yang kental tidak lagi dijumpainya pada mahasiswa saat ini.

Seusai wawancara, kami mohon diri. Beliau sempat wanti-wanti agar kami berkenan hadir pada acara pembacaan puisi dari pegiat seni, Saut Situmorang yang digelar besok hari Minggu, akhir pekan ini. Aku berusaha menyanggupinya walaupun tidak menjanjikan. Kubilang mungkin anak-anak unitas akan aku kabari juga. Ia melepas kami setelah sebelumnya, aku sempat mengambil fotonya dari pelbagai angle. Beliau wanita luar biasa dengan seabreg pengalaman dan prestasi karya sastra. Di antaranya, pernah memperoleh predikat Wanita Berprestasi dari Pemerintah RI pada 1994 dan pernah menghadiri Kongres International Women di Beijing, Cina bersama dengan Ibu Sri Kumalaningsih, dosen pembimbing skripsiku.

Esok harinya, hari Rabu, aku datang ke Gedung PascaSarjana untuk meliput ujian disertasi Ir Bambang Pujiasmanto MS dan Ir Pardono MS. Kegiatan peliputan seperti ini adalah tugas yang selalu kujalani dengan senang hati, meskipun terkadang terasa juga monotoninya. Cukup membosankan, bagi yang menganggapnya ini bagian dari rutinitas. Tapi jika melihatnya dari sisi ilmu, sungguh pengalaman yang amat sangat berharga. Banyak hal yang bisa dipetik dari hasil disertasi ini, mulai dari metode penelitian, semangat kerjanya, kesibukannya sebagai dosen dan kepala keluarga yang seringkali menyita waktu, hingga pada keberhasilan meraih gelar secara tepat waktu. Ada dosen yang bagus banget struktur tulisannya hingga aku terlongong membaca ringkasan disertasinya. Ada pula yang kualitasnya biasa, tapi orangnya berdaya humor luar biasa hingga acara ini menjadi ajang refreshing yang menarik. Ada pula, dosen yang kuat di riset dan detail penulisan, tapi dewan penguji dengan lihai masih menemukan celah yang membuat calon doktor ini tidak mampu menjawab secara mulus. Beragam karakter ini memperkaya khasanah pengalamanku bahwa calon doktor juga manusia, meminjam istilah Seurius Band. Ia sama saja dengan mahasiswa S1 yang nervous ketika ujian skripsi, bahkan jawabannya terkadang juga tidak masuk logika. Ah, bedanya memang pada hal pengalaman.

Di awal-awal melakukan peliputan disertasi tertutup di Fakultas Pertanian, aku mendapat satu kejadian menarik. Bu Sri Kumalaningsih yang kerap menjadi dosen pembimbing calon doktor itu memandang kehadiranku dengan pandangan aneh. Ketika aku menghadapnya kemudian, ia langsung memberondongku dengan beragam pertanyaan. Selain itu, juga meminta aku konfirmasi tentang statusku di sana. Aku lalu berusaha senatural mungkin menjawab, walau di satu sisi takut juga. Jangan-jangan ia memintaku untuk bersikap dan menjawab seperti calon doktor itu. Bah, mana mungkin? Lha wong, waktu itu sarjana saja belum. Hehe, but it’s so excited experiences...

Waduh, sudah melebar kemana-mana ya. Lanjut soal ujian disertasi. Biasanya seusai meliput, aku memotret calon doktor itu sendirian dengan background dinding berwarna netral, biasanya putih gading atau krem. Selanjutnya, aku meminta buku ringkasan yang akan kucatat kemudian. Setelah itu, mendengarkan hasilnya seperti IPK berikut masa studinya. Kelar dengan semua itu, hadirin dipersilakan untuk makan bersama secara prasmanan. Ini yang aku suka, haha...Tapi, seringkali menunya itu-itu saja. Toh, tetap enak dan mengenyangkan kok. Kembali ke Humas sudah pukul 13.00 lewat. Itu artinya aku harus segera mengerjakan tulisan agar bisa segera pulang kampung. Sori banget, tujuan pulang kampung tidak dijabarkan dari awal. Untuk mengambil uang buat daftar wisuda hari Jumat usai yudisium. Nah, itu rencananya. Okelah, sampai sini akan kususun timeline activity-nya.

Pukul 13.00 : Sampai di Humas, lalu segera mengetik hasil disertasi.
Pukul 16.45 : Tulisan baru kelar, sudah dikirim via online. Bisa langsung diupload.
Pukul 17.05 : Tiba di kost, langsung mandi. Mampir ke kosan teman sebentar, pamitan.
Pukul 17.35 : Naik angkot, tujuannya ke terminal Arjosari.
Pukul 18.05 : Sempat ketiduran di angkot, lalu masuk terminal dan naik bus jurusan Blitar.
Pukul 18.20 : Bus berangkat. Aku sempat memeriksa isi tas, ada novel Tsotsi, dompet, dan kacamata.
Pukul 20.05 : Turun di terminal Blitar, menanti bus selanjutnya.
Pukul 20.20 : Berangkat ke terminal Tulungagung.
Pukul 21.30 : Sampai di terminal Tulungagung, lalu ganti bus lagi.
Pukul 21.45 : Ada yang tanya pada sopir, jam berapa ke Trenggalek. Dijawab, jam 11 malam.
Pukul 22.05 : Aku membunuh waktu dengan membaca novel Tsotsi.
Pukul 22.30 : Mulai terasa membosankan, para penumpang berteriak tidak sabar.
Pukul 22.50 : Aku hampir membaca novel Tsotsi separuhnya. Rasanya geram.
Pukul 23.15 : Masih belum berangkat. Para penumpang mengomel.
Pukul 23.20 : Mulai berangkat. Ibuku menelepon, setengah mengeluh kok tidak sampai-sampai.
Pukul 23.45 : Turun di Durenan.
Pukul 23.55 : Tiba di rumah dengan selamat.
Pukul 00.00 : Mengobrol dengan keluarga.
Pukul 00.55 : Sempat melanjutkan novel Tsotsi yang telah kubaca sepanjang perjalanan.
Pukul 01.05 : Tidur.
Pukul 05.15 : Bangun pagi.
Pukul 05.55 : Berangkat lagi ke Malang.
Pukul 10.45 : Tiba di terminal Gadang.
Pukul 11.15 : Tiba di kosan lagi. Ah, rasanya unbelievable. Di rumah hanya numpang tidur doank.
Pukul 11.30 : Mengedit tulisan di Surat Lamaran Kerja, rencananya mau datang di Job Fair.
Pukul 12.55 : Ngeprint di rental.
Pukul 13.45 : Fotocopy di Masjid Raden Patah. Suer, yang ikutan antri banyaknya gak ketulungan.
Pukul 14.15 : Baru bisa selesai fotocopy berkas.
Pukul 14.20 : Masuk di gedung Samantha Krida. Sendirian. Melihat-lihat pameran.
Pukul 15.00 : Merapikan dokumen sekaligus setor ke beberapa perusahaan.
Pukul 15.45 : Keluar dari gedung Samantha Krida, ke Humas.
Pukul 18.45 : Tiba di Kos.
Pukul 19.42 : Dapat undangan psikotest dari PT Santos Jaya Abadi, besok Jumat, pukul 13.00
Pukul 20.05 : Menonton American Idol, haha...sempat-sempatnya.
Pukul 22.00 : Membuat mie instan, makan barengan temen kos.
Pukul 23.15 : Tepar. Kelelahan. Tidur. Pulas. Nyenyak.

Nah, besok harinya kan hari Jumat. Langsung yudisium deh. Ceritanya, nanti to be continued ya. Lanjutnya, pada tulisan berjudul Wisuda yang Tertunda dan Undangan Interview. Bagi yang berminat membaca tulisan ini, silakan dibaca, dan ambil pengalaman positifnya. Jika terasa biasa-biasa saja atau bahkan annoying, saran saya, jangan dibaca daripada bikin sakit perut. Terlebih jadi tidak selera makan. Wah, jangan sampai begitu. Nasi lalapannya Mbak Evy masih enak kok. Tapi, setidaknya saya sudah sharing dengan teman-teman sekalian seluruh pengalaman saya, baik yang senang maupun sedih. Bagi yang menuliskan komentarnya, saya berikan apresiasi setinggi-tingginya. Gudlak buat kita semuanya, temen-temen TIP!

Regards,
Abhiem




Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar