Saya Terima Nikah dan Kawinnya part 1
Maka hari Minggu 26 April 2009 itu datang juga..
1 malam sebelumnya
Cuaca begitu sumuk petang itu, 25 April 2009, dan jam kikuk di dinding berdentang 6 kali. Tertunduk lesu di pojokan ruang tamu, yang namanya menanti selalu menjemukan. Ditemani sinteron termehek-mehek yang makin geje aku menanti datangnya beberapa teman-teman IATIP untuk ke rumah. KAtanya malam ini peserta tur ke probolinggo harus sudah fix. 10 menit ..20 menit..30 menit kemudian terdengar suara motor parkir di depan rumah. AHH..itu pasti mereka
Dan benar saja ketika kubuka pintu rumah, wajah Tri yang kondang dengan jenggot layaknya Ridho Rhoma itu menyapa "Assalamualaikum". Kupersilahkan dia untuk masuk dan menunggu di dalam.Sambil menunggu yang lain kamipun bercerita panjang x lebar x tinggi mengenai LImited, PNS, dan Jobseeker.
Lagi-lagi bunyi sepeda menderu, seorang laki-laki bertinggi badan 170-an cm menaiki sepeda motor Honda memarkirkan motornya di halaman rumahku. Wajahnya tidak begitu jelas karena tertutup helm putih dan sebagian wajahnya di tutup dengan sapu tangan. Laki-laki ini malah tenang dengan penampilannya yang membuat kami tidak bisa mengenalinya. Ternyata dia adalah Prasetya a.k.a Yayan Tumena. Jauh-jauh dari Sidoarjo baru pulang kerja langsung merapat ke Malan demi tur de Probolinggo.
Baiknya si Yayan ini yang sempat me-nyamblek sebungkus besar Gery Toya-Toya untuk jadi teman ngumpul malem ini.hehehe..
Sementara jam sudah nyaris menunjukkan pukul 7.15 namun kami masih menunggu satu orang lagi yang boleh dikata adalah dedengkot yang sebenarnya.
Tak lama kemudian datang juga Hisep dan Mihunnya (heehe..)
ahh lengkap pula pada akhirnya, malam ini kami rencanakan untuk mencari kado buat Berizka.
Setelah terjebak konser PeterPan dan berjibaku dengan kereta dorong di Giant
Kami mendapatkan kado yang kami kira pantas dan bermanfaat tentunya, hehe..awalnya banyak sekali wacana-wacana obat kuat, pengaman dan lain semacamnya. Sekitar jam 9.30 Praz-Tri-Andik langsung melahap nasi goreng mawut yang Crunchy (bener ngene tah spelling e?)di seputaran Pulosari. Kisanak Hisep yang mengantar mihunnya pulang kemudian bergabung dengan kami disana.
Malam itu Praz-Tri-Hisep memutuskan menginap dirumahku berhubung sudah larut malam dan sudah terlalu lelah balik ke kost-an. Danang pun menutup malam itu dengan bungkusan kado berwarna hijau yang cukup indah (kamu berbakat buka rumah kado kawan!)
Minggu Pagi (26 April 2009)
Setelah mnegikat kuat kado dijok belakang motor trie rombongan mulai bergerak meninggalkan kota Malang. Lalu lintas tidak terlalu padat namun kehati-hatian dan kewaspadaan masih di butuhkan disini. Kami berkonvoi 4 sepeda sementara mulwaw a.ka Luki dan Yoyok sudah terlebih dahulu meluncur dari arah Sawojajar.

Selama dari arah Malang hingga Purwosari tidak ada kendala berarti selama perjalanan, hanya saja beberapa anggota touring mengaku mengantuk !!!!ayahab deh!dan dibalik tampang-tampang ganteng tersimpan jiwa-jiwa genit dan doyan nampang. Inilah buktinya sambil menunggu mulwaw-yoyok bergabung, rombongan menyempatkan untuk berpose sejenak di dekat SMKN Purwosari (setelah pertigaan maut Purwosari).

.......to be continued
Berdiskusi Rencana Melancong Ke Berizka
Rabu (22 April 2009) bertempat di Coffeetime UMM, telah terjadi permufakatan antara Andik dengan Hisep yang mana ingin merumuskan rencana melancong ke Probolinggo. Beberapa yang dengan antusiasme tinggi menyatakan ingin ikut antara lain :Andik, Hisep, Praz, Budi dan Mayang. Sayangnya Mayang ini satu-satunya cewek yang menyatakan ketertarikannya untuk ikut acara itu. Sedangkan cewek-cewek lainnya berhalangan. Dari kubu transV yang menyatakan menghadiri acara tersebut antara lain adalah Rozi, Lukman cs. Kubu ini berbeda dengan kubu Andik-Hisep,mereka berangkat minggu pagi (asli ke manten), sedangkan andik-hisep pengennya melancong dulu melihat sunrise di Bromo.
Sekian sekilas info yaaaaa....
Wajah baru UB (Bunderan Jam)

Dan untuk postingan kali ini sengaja saya cuplik dari blogger UB (makasih BloggerUB!

Catatan Kecil Anak Semester 11 (Part 2)

Lagi-lagi aku merasa malu, temen2 da banyak mencari kerja aku masih nguplek aja ma kuliahan. Aku juga ngerasa gagal, gak da yang bisa aku banggain dari diriku.Aku juga ngerasa malu ma kalian Rek!
"Nestle gak cari anak muda bibit unggul dengan potensi yang terbaik" kata-kata Pak Tohan cukup menyengat diriku. "Nestle cari bibit yang laen dari pada yang laen. Kalau cuma bibit yang bisa tumbuh diladang subur, itu sudah biasa, tapi Nestle cari bibit pemuda tangguh yang bisa tumbuh di medan aspal sekalipun. Dan mampu menyuburkan sekitarnya" !!itulah kata-kata Pak Tohan pas acara Kejayan Internship Gathering.
Itu yang harus aku gali dalam diriku, ketangguhan! ketangguhan dalam menjalani kehidupan, ketangguhan saat menghadapi cobaan, dan ketangguhan dalam belajar.
Gak da rasa lelah meski selama 3 bulan kedepan aku harus tiap hari PP malang-kejayan, Gak da rasa sakit tiap kali aku inget gimana Bapakku dulu mbangun keluarga kami dari NOl..
Lalu tentang paham "organisasi vs studi oriented" ? saya tidak menyesali semua yang udah saya perbuat di masa dulu. Meskipun saat ini aku bener2 dalam keadaan prihatin tapi aku yakin itu semua tempaan buat aku agar bisa menjadi lebih baik lagi. Tanpa pengalaman itu semua aku akan tetap jadi seorang pemalas dan Gagal.
Dan organisasi tu penting tanpa link dari organisasi mungkin Nestle hanya sekedar impian.
Trimakasih sudah membaca tulisan saya, apabila ada hikmah atau mungkin tambahan monggo di komentarin.
Maju terus IATIP Brawijaya 2008
salam Hangat,
Andik
Catatan Kecil Anak Semester 11 (Part 1)

Kalau dirunut kebelakang kayaknya jalan perkuliahan yang aku lalui cukup njlimet dan gak da yang lempeng-lempeng aja.Apa aja yang mungkin kalian gak akan bayangkan terjadi itu terjadi ma aku. Di akademis, aku sering banget bermasalah, masi inget nilai B.Inggris ku yang dikasi D ma Bu Francien gara2 aku selopan ke kelasnya,trus pernah bebrapa kali dapet E,dan dah akrab banget ama yang namanya ngulang. Yang jelas gak da semester yang aku lalui tanpa ada masalah semua penuh dengan pukulan dan hantaman,tapi yang paling sakit buat aku adalah gara-gara aku gak terlalu "care" ma nilai-nilaiku ada matkul yang seharusnya aku dapet A/B malah gak kluar gara2 tugas atau presensi. Udah gitu parahnya lagi aku tu seorang penunda, terutama masalah perkuliahan aku males banget, tapi kalo da organisasi aku bela-belain banget dah!3tahun aku di Ospek-an dan itu sampai sekarang bener2 jadi bumerang..
Bahkan aku rela gak PKL dulu gara2 aku jadi SC PK2 waktu itu, alasannya mungkin terdengar gebleg, aku harus total jadi SC karena aku kemaren dapet KKN mapres. Yah bales budi lah. Padahal YUdo (TIP2002)waktu itu da nawarin aku PKL di Nestle tanpa interview coz bulan itu lagi kosong. Yah!tapi aku tetep aja beranggapan aku harus jadi SC. Sounds Crazy, right! Padahal sekedar anda tau dari 10 SC waktu itu hampir 6 orang ditengah2 mengemban amanah malah pada kabur buat KKN tematik, rasanya hati ini kayak diiris sembilu, pedih banget, tapi aku percaya aku da dijalan yang benar, aku bukan pengkhianat.
Kasus lagi tentang matkul AKbi, aku ni emang dongok, super dongok gara2 aku penuh2in kuliah semester 7 aku malah ambil Akbi parahnya gara2 kuliahnya sering sore aku sering banget bolos males lah jumat sore gitu.Ehhh kena presensi, gOdhilnya lagi gak aku urus. Walhasil nilai ku gak kluar (malahan E)dan semester 10 kemaren aku urus..MAkk! aku gegeran ma Pak KUn,,kata dia kurang lebih "Mas mas wis semester 7 kemaren koq baru di urus saiki!" aku emang salah Rek. Aku waktu itu masih ribet jadi Kapel Ospek, yahhh maksud hati mbelani almamater tiba e almamater ku dewe gak peduli ama aku,,Pak Kun ampe bilang "Paling nilai mu pancen elek paling oleh E atau D" dan setelah beliau buka-buka file ehhh rasanya air mata ini pengen tumpah disitu, aku dapet B, Rek. Dan Pak Kun juga tertegun rada gak percaya tapi tetep aja nilai ku gak di kluarin. Rasanya sakit banget ketika kita dah mati2an belain Almamater (Bantuin Pak KUn juga ngurus Ordik) sekarang kita gak dianggep blas!
Ada juga RAncob, sakjane aku gak perlu matkul iki, aku kan manajemen tapi karena aku gak tau aku main ambil aja dan ternyata bermasalah lagi ...duh!aku ampe patah arang semester 10 kemaren, kayaknya aku bener2 gak punya masa depan cerah, kayaknya aku bener2 BODOH dan CeroboHHH.. dan bakal DO. Iya kalo aku tu gak pernah aktif kuliah monggo di DO, tapi ini aku rajin banget kuliah e, apa kata ORTU ku nanti?!
Saat saat paling kritis dalam hidup ku, aku gak bisa tidur berhari2 mikirin what ive done...rasanya semua yang aku impiin lenyap, keyakinan bahwa aktif di organisasi bakal bikin aku makin jaya juga luntur. Aku tipe mahasiswa gagal, prasa ku.
Tapi aku coba bangkit, aku inget kata2 ikhwan Sopa (Trainer EDAN), bahwa jangan pernah berpikir gagal, dan jangan berandai-andai untuk gagal, tatap terus dengan harap dan keyakinan. Aku serasa tersentak, aku lho blum bener2 DO, pun kalo misalnya DO itu bukan the end of story, kecuali aku kemudian bunuh diri (Naudzubillah).
Aku mulai menata lagi kehidupan ku yang da porak poranda di semester akhirku ini, ORTU ku jelas marah banget tau aku gak lulus2, mereka minta aku segera lulus dan IPK 3 padahal untuk IPK 3 aku butuh ampe semester13 an Duh!IPK ku cuma 2,98 dan mau tiga aja koq susah minta ampun.Aku kuliah buat menyenangkan mereka, nilai dan IPK dan Gelar itu buat mereka bukan buat aku. Aku jadi malu..malu sekali..lalu kemudian aku ambil kertas dan aku mulai kalkulasi dan bikin merencana ulang. Aku lalu inget waktuu kapan hari ngunjungi "Panti anak Cacat" ma arek Eight. Dengan keterbatasan saja mereka masih punya impian, smangat, dan cita-cita lalu apa yang menghalangi ku?!
Bhima&Pt. Multigraha Realtindo (as Store Manager)
Admin:this message came from ur beloved friend, Bhima through my email last night. I believe there is a lot more information and stories from you guys, so what are you waiting for? send it to hamsyonkjaya[at]yahoo[dot]com. Looking forward to hear from you.
Sejak awal memang salah satu tujuan dibentuknya blog ini merupakan upaya untuk membangun media yang bisa digunakan sebagai jembatan buat alumni TIP angkatan 2003. Bukan hanya sharing informasi, melainkan juga mediator promosi bagi mereka yang memiliki usaha sendiri. Atau sekadar ingin melongokkan kepalanya mengetahui kabar terbaru bagi anak-anak yang lain. Entah apapun tujuannya, yang jelas lewat blog ini pulalah segala kabar maupun berita terhangat bisa diperoleh.
Saya salah satunya yang akan sharing mengenai gawean terbaru. Baiklah, mungkin sebelum saya, sudah ada Fikri yang memberikan informasi mengenai kondisi dirinya saat di PT GarudaFood, bagaimana dia yang harus bergelut dengan segala hal yang berbau biskuit, mulai dari mengenali pelbagai jenis varian bahan dan produk, coklat, juga memahami proses produksinya. Setelah itu, diberikan literatur terkait, macam kimia pangan, biskuit manufacture, dan lain-lain sebagai landasan teoretikal untuk menjelaskan fenomena apa yang terjadi dengan trial pengembanngan produk yang dilakukan. Intinya, tidak jauh-jauh dari TIP dan ke-teknologi pertanian-an.
Nah, inilah yang terjadi pada saya. Awal masuk di PT Multigraha Realtindo, saya memilih posisi sebagai Store Manager alias Manajer Gerai. Dalam pikiran, sama sekali belum terbayang kinerja yang seperti apa yang akan dilakukan karena belum ada gambaran sama sekali. Bahkan, saya juga belum 'ngeh' perusahaan ini bergerak dalam bidang apa. Baru, sewaktu interview dengan Pak Hariono Ginoto, CEO-nya, saya sedikit banyak mengerti gambaran perusahaan ini.
Perlu diketahui, PT Multigraha Realtindo bergerak dalam bidang retail, Business Service Center yang disebut juga dengan Multiplus. Ada banyak divisi yang tercakup di dalamnya, antara lain pengiriman barang (Pos, TNT, PCP, atau GED), layanan cetak (Q-print), fotokopi, wartel dan fax, warnet, kartu telepon/voucher, biro iklan, tiketing (pesawat terbang atau hotel), laundry, alat tulis kantor (stationery), plus snack. Ribet yah? Enaknya begini aja, kalau kita sering datang ke McD ataupun KFC, maka yang terbayang adalah layanan food and beverages yang berbasis burger atau ayam goreng dan cola. Selain itu, sistemnya juga franchise alias waralaba. Kalau, Multiplus itu dalam satu gerai, layanannya macam-macam, ada sepuluh jenis usaha yang telah disebutkan di atas. Sistemnya juga bisa di-waralaba-kan. Jadi, memang bener kalau namanya sendiri pusat layanan bisnis terpadu, karena semuanya ada di situ. Udah mulai mudheng kan?
Kembali pasca interview dengan CEO. Seminggu setelahnya saya dihubungi untuk mengikuti training di Surabaya selama lima hari. Banyak hal yang diperoleh, antara lain belajar menghitung pengiriman barang baik paket maupun dokumen, harga asuransi, harga FSI (Fuel Surchage Insurance) atau charge bahan bakar, belajar tentang bikin iklan baris dan kolom, tiketing pesawat terbang atau hotel, dan banyak hal lainnya. Benar-benar beda dengan apa yang telah kita pelajari selama duduk di bangku kuliah. Usai training, ternyata itu dianggap belum cukup. Para Store Manager (dari Surabaya ada dua orang, termasuk saya) harus mengikuti training lanjutan selama dua pekan di daerah Karawaci. Langsung OJT di Supermal-nya. Usai OJT di daerah Tangerang yang benar-benar padat itu (setiap hari masuk, mulai pukul 08.00-18.00 WIB), saya langsung ditempatkan di daerah Malang, yakni di Kios Pos Blimbing. Kok di situ? Bukannya di Multiplus?
Jadi, awalnya PT Pos Indonesia bekerjasama dengan PT Multigraha Realtindo untuk membentuk layanan bisnis yang saling menguntungkan. PT Pos untung karena jam bukanya lebih panjang. Bayangkan, buka setiap hari, mulai jam 06.30 WIB hingga 24.00 WIB. Bandingkan dengan unit usaha yang lainnya? PT Multigraha untung karena dapat limpahan customer dari PT Pos. Kios Pos ini salah satu pilot projectnya CEO, Pak Hariono Ginoto. Yang lainnya, ada di daerah Simpang, Surabaya. Kalau pilot project ini bagus, maka kerjasama akan diteruskan.
Lalu, apa job desk saya? Jadi bertele-tele ya..Sebenarnya yang namanya Store Manager itu simpel. Yakni menaikkan omset gerai secara siginifikan dari waktu ke waktu. Itu mudahnya. Namun, proses menuju ke sana amat sangat tidak mudah. Ini mengesampingkan background pendidikan saya yang bukan manajemen strategi bisnis lo ya..Karena skill memang bisa dipelajari. Tapi, yang perlu dimanaje dengan sungguh-sungguh adalah sumber daya manusia. Bukannya peralatan, apalagi barang. Namun, manusia. Bagaimana kita berusaha dekat dengan pegawai tanpa menanggalkan atribut sebagai seorang manajer yang berfungsi sebagai panutan dan mediator antara pegawai dengan pihak pusat.
Waduh, kok berat banget ya kesannya? Boleh jadi seperti itu. Pokoknya setiap hari, harus mengecek tentang kelengkapan administrasi yang dihandle sama Supervisor Administrasi, termasuk stock opname, bukti pembelanjaan, struk dan nota tanda bukti, harga baru dan PLU (ini kode barang), bukti setoran, dan seabreg laporan lainnya. Yang Supervisor Teknis melaporkan tentang kondisi teknis barang, termasuk koneksi internet yang down, pemadaman listrik, maintenance peralatan, invoice dari Speedy dan PLN, serta wartel, dan lain-lain. Awalnya, memang cukup ribet. Sampai-sampai bingung apa yang harus dilakukan dan dilaporkan. Pasalnya, saya juga punya laporan sendiri ke pusat yang harus dikerjakan saban minggunya. Antara lain laporan produktivitas, accountability, weekly report, rekap absensi, rekap tes core value, skill rating, briefing harian, dan lain-lain. Tapi, so far so good lah...Hehe, walaupun kalau pulang ke kos, bawaannya juga bingung, what I have supposed to do for tomorrow?
Untung sekali, pekerjaan Supervisor Admin dan Teknis cukup bisa diandalkan. Maklum, mereka sudah bekerja kurang lebih dua tahunan. Sementara, saya baru masuk 9 Juni 2008 kemarin. Total jumlah pegawai, termasuk saya ada delapan orang, sedangkan yang dari PT Pos ada dua orang. Alhamdulillah, sejauh ini para pegawai cukup apresiatif dan mendukung setiap kebijakan yang saya lontarkan, seperti pengadaan log book komunikasi, form absensi, briefing yang saya adakan tiap hari, penjadwalan ulang shift (karena ada satu pegawai yang dipindahkan), pembuatan sistem rolling, pengadaan customer book, dan sebagainya. Intinya, berusaha untuk selalu mengapresiasi usulan pegawai dan terlibat pekerjaan mereka. Bahkan, saya juga masih ikut memfotokopi kalau kondisi gerai lagi ramai, melayani customer di warnet, ataupun mengirim fax. Tapi, yang jelas tetap enjoy saja..
Ada kondisi lucu yang sempat terjadi di hari pertama saya masuk. Ada satu pegawai, namanya Fida. Setelah berkenalan dan menanyakan lulusan, dia menjawab dari Fakultas Pertanian Unibraw angkatan 2001. Sedangkan saya, FTP Unibraw angkatan 2003. Padahal sebelumnya dia sudah dengan lancarnya memanggil saya dengan sebutan "Bapak". Jadi, brasa tua saja..Toh, sikap anak-anak kepada saya tetap bagus. Mereka memanggil dengan sebutan serupa, meskipun ada yang ada usianya 6 tahun di atas saya. Saya juga berusaha bersikap profesional, menunjukkan kinerja yang bergairah dan semangat positif. Tujuannya, untuk membangkitkan semangat mereka semua. Padahal, saya juga masih perlu belajar banyaaak lagi. Ada hal-hal yang belum begitu saya ketahui. Jadilah, literatur saya yang awalnya berkutat pada bidang jurnalistik dan teknologi pangan, berubah menjadi "sikap manajer yang baik", "manajemen perkantoran", dan semacamnya. Belakangan saya juga tertarik dengan "Reksadana"..Nice knowledge nih. Bagi rekan-rekan yang tahu dan paham soal investasi ini, silakan hubungi saya yah...Saya mau banget kalau diajari, apalagi gratis..Hehe. salam sukses buat semuanya.
Best regards,
Bhima Priantoro
Pengalaman FIkri di GarudaFood
Halo teman-teman semua, aq mau sharing pengalaman tentang pekerjaanku
sbg R&D di garudafood div biskuit
aq mulai dari mana ya? oh dari hari pertama kerja saja ya.
di hari pertama kerjaku setelah berkenalan dengan staff yg ada di sana, aq langsung observasi proses produksi. aq diminta oleh supervisorku untuk memahami seluruh proses produksi yg ada di pabrik ini selama dua minggu.
perlu diketahui garudafood divisi biskuit mempunyai 2 pabrik. perlu di ketahui pula garudafood sendiri punya 12 unit usaha (perusahaan) mulai dari biskuit, kacang, minuman, dll.
aq juga harus menghafal produk produk yg ada di sini, dengan seluruh variannya. hari-hariku di isi dengan observasi proses, aq tanya2 sendiri dengan para operator, qc, orang produksi, dsb. aq hrs presentasi hsl observasiku
dan bisa menjelaskan proses produksi dan aliran bahan di semua lini. aq juga dapat pelatihan GMP, TQM dan manajemen mutu lainnya.
pekerjaan harian R&D diisi dengan trial produk, baik itu baru maupun produk
lama. mulai dari skala lab (2 Kg), skala batch produksi, skala 400 Kg, skala 1 shift, hingga skala satu hari, dsb. di sini memang kita dituntut untuk memiliki dasar pengetahuan bahan yang baik, pemahaman proses produksi dan perubahan bahan selama proses. di sini aq diberi banyak buku untuk di pelajari, mulai dari bahasa ind hingga bhs inggris.
kenapa hrs belajar lagi? karena setelah melakukan trial produk kita harus mampu menganalisa apa yg terjadi dengan produk hasil trial. kita harus menganalisa kenapa produk jadi begini dan begitu berdasarkan karakteristik bahan, proses dan karakter produk hasil trial. tentu saja analisisnya ngak ngawur harus ada landasan teorinya. ya boleh di bilang kita tiap minggu seperti ngerjakan analisa data dan pembahasan seperti skripsi. wah aq hrs banyak baca buku, soalnya banyak yg ngak tahu, aq kan bukan anak THP, kl perencanaan produksi sih sdh ngak perlu belajar lagi, tapi kalau tentang gelatinisasi, protein, karbohidrat, tepung terigu, dll. aq hrs baca buku lagi.
aq msh ingat waktu suruh nganalisa hasil pengembangan biskuit dg substitusi bhn tertentu. aq sampe mentok ngak bisa mikir, dihadapanku ada setumpuk buku punya pabrik mulai dari food chemistry, kimia pangan, biskuit manufacture, dll, untuk membantu landasan teori kenapa terjadi fenomena spt ini dan itu pada data hasil trial. untung ada yg ngasih ide, aq akhirnya bisa memulai menganalisis dan membahas datanya. ya begitulah, aq anggap aja aq sdg kuliah lagi, S-2 tapi dibayar. he he.
satu hal yg blm kukuasai saat ini adalah analisa sensori, aq kdg masih belum
bisa bedakan berbagai rasa cream dan coklat yg ada di sini, maklum jenis
coklatnya banyak sekali, varian bahan dan produk juga banyak. aq bahkan sampai pernah mual-mual gara-gara kebanyakan makan coklat untuk menguji coklat mana yg berbeda dan plg enak.
semoga bisa memberikan gambaran bagi yg mau kerja di bagian R&D industri pangan. oh ya di sini gudangnya anak brawijaya, kl anak TIP ada mas eko Bioin, mas beni, pak Hafid (Kepala QA), pak Galih (PPIC), dll.
sukses buat semua. bye bye. was.
Kapankah FTP Punya Gedung Bagus?
Sabtu malam, tanggal 16 Februari 2008, saya bersama seorang kawan, Atika bertandang ke Fakultas Kedokteran Unibraw. Tujuan kami untuk meliput acara peresmian Gedung Pusat Kedokteran setinggi 7 lantai yang mulai dibangun pada 2006 silam. Berdasarkan penuturan dekan FK, dr Samsul Islam, pembangunan gedung ini menelan dana mencapai sekitar 17,5 miliar yang diambil dari PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Terbagi atas dua tahap dimana tahap pertama berupa pembangunan struktur dengan desain antigempa pada periode 16 September – 29 Desember 2006. Sedangkan, tahap kedua berupa finishing selama 180 hari, antara 21 Juni – 19 Desember 2007. Dengan luas total 10.346,7 m2 menjadikan gedung FK ini sebagai gedung termewah dan tercanggih di antara yang lainnya.
Seusai acara pembukaan yang ditandai penandatanganan prasasti oleh Rektor Unibraw, Prof Dr Ir Yogi Sugito beserta dekan FK, dr Samsul Islam serta pengguntingan pita oleh Ibu Eny Sugito, para hadirin dipersilakan untuk meninjau ruangan di gedung tersebut. Para rombongan lalu menyaksikan ruangan demi ruangan setiap lantainya. Dimulai dari lantai enam, tersedia ruang auditorium, ruang komite, ruang seminar, hingga ruang tunggu persiapan. Dinding seluruh ruangan ini dilapisi papan khusus yang mampu berfungsi sebagai peredam suara. Di lantai lima, terdapat ruang para pimpinan. Mulai dari dekan, pembantu dekan, ketua program studi, administrasi umum, staff, serta roof garden. Yang menarik, desain untuk ruangan dekan dan para pembantu dekan dibuat berbeda. Semuanya tampak sangat mewah dan luks. Seperti menonton griya unik di acara televisi. Ruang dekan cukup lapang dengan fasilitas menunjang. Ruang pembantu dekan satu berwarna hijau pupus, ruang PD II berwarna merah marun, sedangkan ruang PD III berwarna ungu anggrek. Tata letak maupun pemilihan warna dilakukan cermat, sedetail mungkin. Tentu saja untuk menyegarkan mata serta memberikan efek nyaman, serasa di rumah sendiri. Selain itu, ruang administrasi juga cukup cantik. Para rombongan tak henti-hentinya berdecak kagum. Ada yang menyeletuk, “Kalau kaya gini, jadi betah di kantor terus. Emoh pulang..” Saya tersenyum, mengiyakan. Bagi yang penasaran, silakan dilihat gambar-gambarnya.
Lanjut, di lantai empat, terdapat ruang kelas, ruang administrasi, lobby serta ruang tunggu. Desainnya standar tapi tetap berkesan elegan. Di lantai dua maupun tiga, hampir serupa. Terdapat ruang PBL (Problem Based Learning), ruang administrasi, ruang perlengkapan, serta ruang tunggu. Yang terakhir, lantai pertama terdapat ruang laboratorium bahasa Inggris, ruang komputer, kantin, musholla, UKM serta kamar mandi. Gedung ini juga dilengkapi fasilitas pendukung, seperti sistem penginderaan kebakaran berupa fire alarm yang sempat disimulasikan pada awal rombongan masuk meninjau gedung, transportasi vertikal, plumbing yang terdiri atas instalasi listrik, air, serta sampah, sistem informasi manajemen yang mengelola data terpusat, hotspot, televisi, dan telepon. Tak cukup lagi? Ada pula penangkal petir elektrostatik yang mampu menetralisir muatan listrik sehingga petir gagal menyambar dalam radius 200 m2.
Bagaimana? Cukup wah dan keren, bukan? Saya tak habis-habisnya mengagumi keindahan masing-masing ruangan. Terutama ruangan para pimpinan tersebut, dekan dan pembantu dekan yang so exciting... Jadi mengiri. Apakah nanti ruang kantorku juga akan seperti itu? Hm, I hope so.. Usai peninjauan seluruh rombongan berikut hadirin dipersilakan untuk ramah tamah alias makan bersama. Selanjutnya, menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan dalang sebanyak tiga orang yang beraksi berbarengan. Semuanya dari Kedokteran sendiri. Acara ini bisa dinikmati secara bebas oleh masyarakat luas beserta undangan. Mulai pukul 21.00, diperkirakan akan selesai dini hari sekitar pukul 03.00. Sementara aku, puas memotret dan wawancara, akhirnya pamit. Undur diri. Nonton wayang kulit? Pengin juga. Tapi, harus mengantar kawan pulang ke kosnya. Tak baik, pulang malam-malam. Apa kata tetangga? Hehe...
Sambil menyusuri gedung-gedung di kampus tercinta ini, ingatanku membayang pada gedungku sendiri. Fakultas yang lainnya berlomba-lomba mendirikan gedung baru, bagaimana dengan FTP? Boro-boro, gedung baru, jurusan saja masih belum terintegrasi dengan sempurna. Fakultas juga masih terpisah. Kemahasiswaan sudah mulai dipindah, akademik masih di gedung lama. Sementara jurusan TIP? Ruang kelas memang cukup luas. Tapi, LCD seringkali harus mengantri ketika ada mata kuliah bersamaan. Sudah mulai ada pembenahan, serta penambahan fasilitas buat mahasiswa. Tapi, sebenarnya yang lebih penting lagi bukan hal itu. Melainkan, peningkatan pada kualitas civitas akademikanya. Mulai dari mahasiswa, dosen selaku pendidik dan pengajar, serta pegawai dan karyawannya. Seluruhnya harus terintegrasi menciptakan kualitas yang bagus dalam fungsi tiga pilar. Yakni, aspek pendidikan, penelitian, serta pengabdian masyarakat. Percuma juga punya gedung bagus, jika kualitasnya jelek. Tapi, bukan berarti gedung juga jelek. Tegasnya, fasilitas juga harus dipertimbangkan agar ketiga aspek tersebut bisa terpenuhi dengan baik kualitasnya.
Oh, ya..Pikir saya lagi. Jika FTP punya gedung bagus seperti di FK itu, mahasiswanya bayar SPP berapa ya? Jangan-jangan jadi Rp 10 juta per semesternya? Wah-wah... Standar kedua fakultas ini cukup jauh jika hendak diperbandingkan. Jika mau komparasi, lebih baik dengan fakultas agrokompleks yang lainnya. Jangan FK, FIA, ataupun FE yang sebentar lagi juga hendak dilakukan peresmian. Dengar-dengar juga, PIS juga hendak melaksanakan peletakan batu pertama. Boleh juga, persaingan ini. Tapi, harapannya juga. Jangan sampai pembangunan gedung ini pada akhirnya membuat para penentu kebijakan, seperti dekan beralasan untuk menaikkan uang gedung mahasiswanya. Percuma juga kan? Mending kuliahnya outdoor saja, daripada di dalam kelas tapi tidak bisa membayar SPP...Setali tiga uang jadinya.
Regards,
Abhiem
Sekadar Sharing
Sudah lama rasanya saya tidak bercerita tentang pekerjaan. Maklum, selama ini masih berkutat dengan gawean yang berputar dari itu-itu saja, but I still enyoyed it...Sekarang, saya mau bercerita atau tepatnya sharing tentang pengalaman saya tentang pekerjaan yang ‘sesungguhnya’. Maksudnya?
Pekerjaan yang didapat oleh sebagian besar lulusan sarjana di Indonesia ini dengan melalui proses yang tidak mudah, mulai dari psikotest, interview, dan tes-tes lain yang ribet dan melelahkan. Dan setelah masuk kerja, bakalan menjalani rutinitas yang menjemukan terkungkung di antara berlembar-lembar kertas nan bertumpuk atau di antara barang laboratorium yang berbau menyengat itu atau harus pontang-panting kala berhadapan dengan tugas yang menuntut sebuah pertanggungjawaban, deadline! Kata mati yang membuat seorang pekerja harus mengorbankan pikiran, waktu, dan tenaganya setengah mati untuk memenuhi hal tersebut. Ya, bukan maksud saya menceritakan hal yang buruk dan mengerikan. Tapi, bukankah hal tersebut mau tidak mau akan selalu kita hadapi ketika bekerja apapun?
Saya salah satunya menjadi ‘korban’ dari kondisi yang menuntut konsekuensi dari sebuah prosesi pendidikan yang telah ditempuh selama ini. Singkatnya, kuliah memang ditujukan nantinya agar bisa bekerja, mengaplikasikan ilmu yang telah didapat. Namun, alangkah ironisnya ketika mendapati mayoritas sarjana yang bekerja saat ini tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang telah ditempuh. Sarjana teknik yang bekerja di bank, sarjana pertanian yang bekerja sebagai teknisi, ataupun sarjana ekonomi yang bekerja di bidang komunikasi. Banyak sekali kasus. Bukan salah sarjananya, sama sekali bukan. Sebab memang ketika lapangan pekerjaan menjadi sempit, kompetisi pun akan semakin ketat sehingga bidang yang awalnya tidak dikuasai pun mau tidak mau harus dipelajari dan didalami.
Saya sendiri, seorang sarjana lulusan teknologi pertanian, minat sekali dalam bidang jurnalistik dan selama ini memang berkutat dalam hal tersebut. Tapi, saya juga tidak tahu apakah nanti beneran bakal terjun di bidang tersebut, ataukah malah ‘menyasar’ di bidang perbankan, misalnya atau di bidang komunikasi, sebagai presenter di layar kaca atau malah jadi ‘artisnya’, haha.. (yang ini sih bercanda). Atau malah di bidang pertanian murni, I mean..di lahannya bukan di industrinya, seperti merawat tanaman, melakukan pemupukan yang efektif, mencegah hama penyakit meruak, dan lain sebagainya. Nah, yang terakhir ini hendak saya ceritakan terkait dengan pengalaman saya beberapa waktu lalu.
Hari Senin, tanggal 4 Februari 2008, kemarin saya bersama dengan tiga orang teman-teman se-jurusan dan se-angkatan, Bambang, Fikri, dan Fauzan mengikuti tes psikologi alias psikotest yang diselenggarakan oleh PT Sinarmas Agribisnis and Food. Awalnya, bingung sekali dapat sms-nya kok dari PT Smart, padahal sama sekali tidak mengirim lamaran ke sana. Bahkan, Fikri yang lusa sebelumnya sempat mengikuti psikotest juga di Gresik (saya lupa nama PT-nya) sampai menelepon saya. Terus terang, saya tidak tahu, namun setelah mengecek internet, teranglah sudah bahwa PT Smart termasuk dalam Sinarmas Group yang konon Presiden Direkturnya menduduki peringkat ketiga terkaya di Indonesia. Wilayah bisnisnya terentang mulai dari consumer goods, seperti minyak goreng dan margarin, juga bidang properti dan telekomunikasi.
Sebelum psikotest, diterangkan terlebih dahulu profil sekilas PT Smart dan prosesi yang akan dilalui jika lulus seleksi. Perlu diketahui, kami melamar untuk posisi Agronomic Asssitent, pengawas pekerja di perkebunan kelapa sawit, di luar Pulau Jawa. Sebelum bekerja, calon ditraining terlebih dahulu selama 6 bulan, dan tidak terkait langsung dengan pekerjaan di lahan. Jadi mendapatkan bekal secara teoretis doank plus uang saku. Selanjutnya, mulai bekerja, namun tiga bulan pertama dalam taraf percobaan, namun sudah mulai mendapatkan gaji plus pelbagai fasilitas. Jika mau fasilitas rumah, harus menikah dulu. Selama training maupun menjalani masa percobaan hingga bekerja minimal 2 tahun, tidak boleh sekalipun cuti. Jika melanggar, akan dikenakan penalti, Rp 5 juta yang melanggar ketika masa training, dan Rp 25 juta jika melanggar pas bekerja. Denda harus dibayar lunas sebab ijazah asli akan ditahan oleh perusahaan. Terbayang ribetnya? Terlebih, posisi seperti itu sama sekali bukan jurusan kita banget.... Pernah, ada kejadian dua orang pekerja dikeluarkan karena melakukan tindakan indisipliner dan diterima bekerja CPNS. Tapi, entahlah sebanyak 16 orang dari pelbagai fakultas yang hadir di ruangan (di Guest House) itu mungkin punya motivasi tersendiri dalam melamar pekerjaan ini.
Pukul 13.00 siang lebih sekian menit, psikotest dimulai dan pihak PT Smart yang diwakili Grace membagikan soal. Jenisnya macam-macam, namun semuanya pilihan ganda. Mulai dari bentuk artikel, mencocokkan gambar berpola, aritmatika, hingga menggambar pada kertas yang sudah terisi titik atau garis lengkung atau garis mendatar. Yang terakhir, melukis satu sosok badan utuh manusia selengkapnya. Tes-tes seperti ini sebenarnya standar, sudah biasa dikeluarkan oleh pihak manapun. Namun, yang kemudian menjadi tidak standar adalah ketika Grace memberitahukan hasilnya akan diketahui dalam 15 menit setelahnya. Dan, percaya atau tidak, kami semuanya lulus tanpa perlu mengerti hasil yang diraih. Lo? Kemudian kami menjadi curiga dengan proses yang diberlakukan. Jangan-jangan, PT Smart memang ingin mengambil tenaga kerja sebanyak-banyaknya, dan psikotest hanya sekadar formalitas belaka. Sudahlah, toh apa salahnya jika diambil kesempatan ini, meski transparansi tidak ada.
Kami diminta untuk mengisi tiga lembar formulir pendaftaran kesediaan untuk bekerja di PT Smart sebelum mengikuti interview yang dilaksanakan besok harinya. Selain biodata pribadi, juga ada pertanyaan seperti alasan melamar di perusahaan, posisi yang diambil, gaji yang diinginkan, lokasi yang diharapkan, penyakit yang diderita, dan sebagainya. Grace wanti-wanti agar kami segera pulang dan mempelajari materi yang berhubungan dengan agronomi sebab siapa tahu waktu interview, pertanyaan seperti itu akan muncul. Dan, akulah yang kemudian bingung. Meskipun tidak terlalu minat pada posisi Agronomic Assistant, namun setidaknya aku perlu belajar agar tidak terlampau memalukan. Yang ada di kepalaku adalah bagaimana mengoptimalkan diri sendiri, dengan menjual kemampuan sebab pada dasarnya hal terpenting sewaktu interview adalah bagaimana kita berhasil menarik minat customer (dalam hal ini perusahaan) sehingga akan meng-hire kita sebagai pegawainya. At least, para interviewer akan menganggap calon-calon dari Universitas Brawijaya perlu dipertimbangkan kapabilitasnya. Jadi kita akan punya daya tawar tersendiri.
Malamnya, aku ke rumah salah seorang teman Fakultas Pertanian yang sempat mengikuti praktikum Ilmu Tanah. Sempat berbincang seru, pulang ke kos aku malah hanya sempat membaca tanpa menghafal secara total. Plus, satu artikel dari Kompas tentang perkebunan kelapa sawit. Kupikir, biarlah yang penting sudah usaha. Toh, juga tidak akan malu-maluin banget. Paginya, kami, antar pelamar sempat bertukar pikiran membahas bagaimana nantinya. Pelamar yang sudah interview menceritakan pengalamannya sedikit kepada kami. Aku lalu berusaha mempelajarinya dalam hati.
Tibalah kemudian giliranku. Masuk ke ruangan, ada tiga interviewer di belakang meja, salah satunya Grace. Ia memintaku untuk menceritakan how about me, its everything that relation with me. Tentu saja, aku bercerita cukup lancar karena pertanyaan seperti ini sudah terlampau sering kudengar. Dia lalu bertanya tentang kegiatanku sehari-hari, selain berkuliah, serta sedikit aktivitas jurnalistik. Selanjutnya, giliran bapak yang duduknya di tengah. Orangnya separuh baya, tidak tampak tua, namun matanya terlampau menukik, memandangku tajam seolah aku santapannya. Dia bertanya tentang kesesuaian jurusanku dengan posisi yang akan aku ambil. Kujawab sebisanya, bahwa aku akan selalu belajar mengenai agronomi dan yang berhubungan dengan per-kelapa sawit-an. Lalu dia memberondongku dengan pertanyaan tentang keilmuan, apa itu unsur hara? Apa itu unsur hara makro, unsur hara mikro? Apa yang terjadi jika daun warnanya kuning? Kenapa sebabnya? Unsur hara apa yang menyebabkannya? Lalu, aku diminta untuk menuliskan rumus Phytaghoras, keliling lingkaran, luas lingkaran, hingga volume bola, di sebuah papan yang telah disediakan. Agak heran juga, untung semuanya cukup lancar kujawab.
Terakhir, dengan bapak yang dilihat dari penampilannya, pasti lebih tua dari kedua orang disebelahnya. Ditandai dengan rambut putih dan senyum agak kalem, cenderung sinis, namun pandangan matanya menyelidik. Dia bertanya tentang minatku yakni membaca. Ia tahu dari CV yang kutulis. Tentu saja aku mengiyakan dengan sepenuh hati. “Apa yang suka Anda baca?” tanyanya. Kujawab, prioritas pertama bacaan sastra, kedua, bacaan yang sesuai dengan disiplin ilmu, ketiga, tentang jurnalistik. Dia lalu mengejarku, “Kenapa Anda suka bacaan sastra?” Kujawab, sebab memberikan banyak refleksi kehidupan dan pesan positif yang bisa diambil. Lagi-lagi dia menguntitku, “Apa bacaan sastra yang terakhir kali Anda baca?” Aku menjawab otomatis, “Edensor”. Ketika disuruh menceritakan, aku langsung panjang lebar bercerita lancar. Pasalnya, aku baru saja selesai baca sehari sebelumnya dan novel itu langsung jadi favoritku. Novel ketiga dari tetralogi-nya Andrea Hirata, Laskar Pelangi, yang diambil dari perjalanan hidupnya. Berkisah tentang bagaimana dua anak manusia tetap menjaga mimpinya untuk selalu belajar, bersekolah di luar negeri, S2 di Universitas Sorbonne, Prancis. Sungguh perjuangan yang manis dan benar-benar so inspired... Kata-katanya bernas, dengan diksi menawan yang terjalin sistematis dan diberikan sentuhan emosional, menjadikannya salah satu novel amazing yang terpilih dalam nominasi Khatulistiwa Literary Award tahun ini.
Sori, jadi kebablasan. Interviewer tua itu agak terperangah mendengarku bercerita detail. Ia lalu mengalihkanku pada novel yang lain. “Anda sudah baca Geisha?” Aku mengangguk, Memoar of Geisha, novel terjemahan lawas yang juga sangat cantik. Sudah difilmkan dengan bintang Ziyi Zhang dan Gong Li. “Menurut orang-orang, novel itu jelek, karena mengajarkan orang untuk jadi pelacur. Bagaimana pendapat Anda?” Tentu saja aku bilang tidak setuju. Banyak hal positif yang bisa diambil, salah satunya ketika Ziyi Zhang kecil yang pada awalnya jelek dan kumal berusaha sepenuh tenaga berlatih keras sehingga menjadi salah satu geisha terpandang yang namanya tetap berkumandang hingga kini. Meskipun jalan yang ditempuhnya sangat terjal, hingga dijahati berkali-kali oleh geisha yang tinggal serumah dengan dirinya. A great story...Konon, novel terjemahan Listiana ini jauh lebih indah bahasa Indonesianya daripada yang aslinya. Saya belum tahu sebab tidak pernah baca aslinya. Namun, saya tidak memungkiri keindahan bahasa novel Geisha tersebut. Interviewer tua itu kemudian mengangguk-angguk dan menyatakan cukup atas semua pertanyaan yang telah diberikan. Saya dipersilakan dengan hormat untuk meninggalkan ruangan dan akan diberitahu hasilnya sekitar seminggu kemudian dari hari tersebut.
Sebelumnya, saya juga sudah berbicang dengan Bambang perihal interview ini. Ia mengaku, sama sekali tidak menyukai posisi Agronomic Assistant. Kedatangan dia kali ini hanya untuk memperoleh pengalaman, bagaimana sih rasanya diinterview. Terus terang saya lebih respek dengan jawaban yang dia berikan, daripada jawaban salah satu temanku, anak Fakultas Pertanian yang mengaku tidak respek, namun tidak datang interview. Alasannya, daripada diterima lebih baik mundur dari awal. Lo? Bagaimana dia tahu diterima atau tidak, tanpa melalui interview? Saya menyesalkan tindakannya, tetapi prinsip orang memang berbeda-beda, dan saya sendiri juga belum tahu apakah diambil atau tidak jika nantinya diterima.
Tiba-tiba ingat, pagi harinya, saya sempat ditelepon ibu. “Bagaimana nanti interview-nya? Posisi apa? Perusahaan apa? Dimana nanti jika ditempatkan?” Kujawab, “Asisten agronomi, pengawas perkebunan. Di Sinarmas, saya ambilnya di daerah Riau jika ditempatkan.” Beliau lalu setengah berteriak, “Loh, kok jauh sekali? Ambilnya kok di sana sih?” Aku terdiam sesaat. “Ya, mau ambil dimana lagi, Bu. Kan adanya di luar Pulau Jawa.” Saya hendak meneruskan, kalau di Pulau Jawa kan bukan perkebunan kelapa, tapi perkebunan teh, atau kopi. Namun hanya terlontar dalam hati. “Ya sudah, sukses yah nanti...dijalani saja dulu.” Saya mengiyakan, dan langsung jadi pengobat sebelum menjalani interview yang telah diceritakan sebelumnya. Memang, cari pekerjaan sekarang susah-susah gampang. Banyak-an susahnya, daripada mudahnya. Bahkan, hal yang sama sekali tidak kita minati, harus susah payah didalami demi sebuah pekerjaan. Apapun rela dilakoni. Saya hanya pasrah. Jika nanti diterima toh masih harus banyak berkonsultasi dengan orang tua, sahabat-sahabat saya, teman-teman yang kuliah di Agronomi, serta pihak-pihak terkait. Dan, ternyata jika tidak diterima, saya sudah mempersiapkan dengan hal yang lebih baik lagi, karena toh bukan rezeki saya di situ. Perusahaan lainnya bisa jadi jauh lebih sesuai dengan karakter dan kepribadian saya. Yang penting saya tidak menjalaninya dengan setengah hati, apalagi tanpa prinsip. Pengalaman saya tentang interview ini setidaknya membuka cakrawala pikiran saya tentang dunia kerja yang sesungguhnya, sebuah proses yang musti dilalui sebelum memperoleh posisi yang diinginkan. Bagaimana kita meraih sesuatu melalui perjuangan dan mimpi-mimpi yang terpendam. “Kita harus memiliki mimpi-mimpi, sebab Tuhan akan memeluk mimpi itu dan akan terwujud kelak suatu hari nanti, “ kata Arai, tokoh dalam novel Edensor yang kuidolakan.
Oleh : Bhima Priantoro
Nelongso
salam sejahtera buat yang beragama laen..
sebenarnya tidak ada motivasi khusus dalam blog hari ini
saya terdampar tanpa arah dan tujuan di lab.Manajemen
Kurang lebihnya begini, saya itu berencana nyambangi Pak au' untuk menyerahkan revisi nomber 3.Mengingat sudah bulan januari,akhir pula, tapi belum juga da perubahan dalam karir.Perubahan lebih baek justru dalam hal percintaan huuuff :>
tapi setelah saya rodi dari malem ampe pagi,
setelah perjalanan bolak-balik sebelum sampai di TIP(dompet saya tertinggal)
mata berbinar yang awalnya bakal saya berikan
kepada Pak Au' ternyata aku berikan pada dhisti, Cut, Ros dan Jay(bukan Jaya :)!)
Pak Au' lagi les berbahasa inggris yang baek dan tanpa cela.
cilaka nona
saya baru tau kalao saben kemis ada les
buat dosen!!
ughhh!!